Rabu(01/05), menyimak kabar tentang investigasi UN yang di laksanakan oleh kemendikbud pada tahun 2013 ini, sepertinya tak akan beda dengan tahun-tahun sebelumnya. hanya akan menghasilkan laporan baik dan berjalan sesuai rencana. Padahal kita melihat dengan telanjang betapa amburadulnya pelaksanaan UN di tingkat SLTA, yang kesalahannya di limpahkan pada pihak percetakan. Menurut FITRA, yang di sampaikan Oleh Ucok Sky Khadafi; investigasi UN hanya mencari kambing hitam baru. Benarkah demikian?
Tanggapan Yusuf Kalla mengenai UN, kuat dan punya alasan yang jelas. Seperti di sampaikan pada forum ILC yang lalu. Masalahnya Yusuf Kalla tidak pernah melihat efek dari pelaksanaan UN di daerah. Dimana terjadi "pembodohan pendidikan" secara masif yang melibatkan guru, kepala sekolah, pejabat dinas pendidikan dan siswa itu sendiri. Jika ini di biarkan, maka pendidikan kita hanya menghasilkan generasi lemah tak berilmu. Dasar ini menjadi landasan untuk mereformasi pendidikan agar lebih baik pada masa mendatang. Sebagai catatan kecil reformasi untuk pendidikan yang lebih baik adalah; pertama, moratorium UN, kedua; meningkatkan pemerataan kualitas di semua satuan pendidikan di Indonesia, ketiga; lelang jabatan kepala sekolah yang jauh dari bau politik, nepotisme dan korupsi.Keempat: meningkatkan kualitas guru secara bertahap. Program sertifikasi yang sudah di jalankan perlu di tingkatkan kualitasnya tanpa ada unsur-unsur lain di luar pendidikan. Mungkinkah ini saatnya reformasi pendidikan? tergantung niat kita untuk negeri ini...........
No comments:
Post a Comment