(KN) Tepat jam 12.00 wib rombongan MAN Kisaran sampai di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh(31/01), sesaat sebelum sholat jumat di mulai. Karena waktu yang mepet beberapa anggota rombongan tidak sempat mandi dan langsung wudhu bersiap untuk sholat. Selesai sholat penulis mengamati renovasi di bagian dalam. Hampir seluruh lubang angin di beri teralis di bagian luar dan kaca di bagian dalam. Beberapa ac tegak di sandarkan pada dinding bagian belakang. Kemudian lcd monitor bergantungan di tiap tiang, tapi belum di fungsikan.
Sebenarnya renovasi ini cukup mengundang tanda tanya? salah satunya adalah penutupan lubang udara(ventilasi). Seperti kita semua faham, daya tahan mesjid raya ini saat musibah tsunami selain dari rahmat Allah SWT juga karena bentuk bangunan art deco yang banyak melewatkan udara. Pada saat tsunami, ruang udara inilah yang melewatkan air hingga tidak menumpuk pada satu titik. Akibatnya kekuatan air akan memecah dan menjadi lebih kecil. Sesuai dengan hukum Pascal dan Boyle. Jika sekarang ruang udara tersebut di tutup, mampukah mesjid raya menahan gempuran air jika tsunami berulang?
Lupakan tentang renovasi mesjid, ada cerita lain dibalik keterlambatan kami sampai di mesjid raya yang seharus pukul 11.00 wib. Saat berada di jalan mendaki Seulawah, bus pertama mengalami jim panas sehingga terpaksa berhenti lebih kurang setengah jam. Lalu rombongan bus dua menunggu sambil menikmati pemandangan pegunungan dan air kelapa muda. Setelah itu baru lanjut lagi. Pada sholat jumat juga ada kejutan lain ketika bertemu dengan siswa tamatan 2012 dari SMA Muhammadiyah 8 Kisaran, salah satu sekolah dari tempat asal rombongan. Ini seperti ketemu saudara di perantauan.
Friday, January 31, 2014
Menuju Sabang(5): Jumatan di Baiturahhman
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment