Entah apa di benak remaja dan anak-anak di Kisaran. Seusai subuh Ramadhan hari pertama harus lebih khusuk dan hikmad, ternyata berubah menjadi hinggar binggar tak karuan. Ledakan petasan berlangsung masip, bahkan sengaja di lempar di tengah badan jalan. Mengganggu pengguna jalan. Ini tampak mulai dari jl. Budi utomo, sekitar stadion, jl. Sisingamangaraja, cokro, sampai tugu adipura. Tak terbilang dalam gang gang sempit. Ini cerminan remaja muslim Kisaran masa kini?
Thursday, July 11, 2013
BRT: idenya menyusahkan
Inilah politik, tiada yang kekal
Sunday, July 7, 2013
Secepat inikah Jokowi?
Saturday, July 6, 2013
Ini Dia Pembangunan Yang di Kerjakan Asahan Yang Paling Top
Bila kita amati pembangunan di Asahan dalam kurun waktu tiga tahun tak jauh-jauh dari pasar atau pajak.
Mari kita telusuri satu persatu. Yang pertama pusat pasar kota Kisaran, walau sudah terbakar pembangunan belum di mulai sama sekali. 2. Pasar Bakti, pedagang sudah di relokasi, renovasi pun sudah hampir rampung. Sedikit mengundang pertanyaan, kenapa ini yang dulu di selesaikan? Sementara pasar kota belum juga di sentuh dan jauh dari kesan ke indahan?. 3. Renovasi pasar kebun sayur Air Joman, sudah selesai. Tapi menyisakan pembagian kios yang tak merata dan adil.
Selebihnya pembangunan di Kisaran sifatnya mempercantik, ada Alun-alun, Mesjid raya, dan pembuatan lampu jalan dan area pejalan kaki. Pemberdayaan ekonomi rakyat sepertinya di biarkan berjalan sendiri. Sungguh terlalu!
Himbauan Penggusuran Kios Yang Tak Bijak
Jumat kemarin(5/7), para pedagang di sekitar jl. Madong Lubis terus ke Jl. Budi Utomo mendapat surat himbauan untuk membongkar kios dari Camat Kisaran Timur. Alasan yang di sebutkan pada surat, karena kios pedagang yang didirikan dekat parit Dianggap mengganggu kelancaran lalu lintas. Ini jelas merupakan hal yang mengada ada. Karena jelas pajak Bakti yang pindah di sekitar kuburan Cina jauh lebih memacetkan. Bagaimana dengan kios pajak di tengah kota Kisaran? Jika alasan keindahan masih logis. Dan kebijakan pemerintah untuk menata dan tetap menghidupkan geliat ekonomi yang sudah tumbuh di kedua jalan itu, bukan sebaliknya. Ini lah yang menjadi harapan agar pemerintah punya arti bagi rakyat kecil, bukan seperti pepatah; ajing menggongong kapilah berlalu. Rakyat hanya di butuhkan pada saat pemilu saja, di kasih janji dan di cekoki nasi bungkus.
Sebelumnya sudah di terima oleh pedagang surat himbaun pembongkaran dari satpol PP pemkab Asahan , sehari setelah khitanan massal di umbut-umbut. Apakah ini ada kaitannya? Mengingat saat itu hadir pejabat tinggi di lingkungan pemkab Asahan.
Untuk perbandingan mari kita perhatikan foto keramaian di jl. Syech Hasan, yang menjadi relokasi pajak Bakti? Bagaimana Pak Camat?
Pedagang Pasar Kebun Sayur Air Joman Demo Bupati Asahan
Kamis(04/08/2013) Puluhan pedagang kebun sayur Air Joman berkumpul di depan kantor Bupati Asahan, untuk menyampaikan aspirasinya. Mereka dengan sabar di tengah terik matahari jam 11.00 berdiri dan berteriak menuntut kebijaksanaan bupati, mengenai pembagian kios yang dianggap tidak adil.
Menurut Bang Is, salah seorang pedagang, banyak pedagang lama yang tak mendapatkan kios setelah renovasi selesai. Malah banyak individu baru yang sebelum tidak berdagang, mendapat jatah kios.
" Mana janji mu Pak Bupati". Teriak bang Is di depan puluhan satpol PP yang menghadang para pendemo.
Menurut mediator demo Guntur S Zass SH, ia meminta bupati agar tidak mengabaikan hak-hak pedagang kecil. Beliau juga menyalahkan bupati atas sikap beliau yang suka memberikan janji manis yang tak pernah di penuhi.
" Ini konsekuensi atas iming-iming beliau kepada rakyat kecil." tegas Guntur.
Sayangnya, selama aksi demo tak seorang pejabat Pemkab Asahan yang menyahuti aspirasi pedagang ini. Kabar yang di peroleh Para petinggi Asahan lagi Kunker di Tinggi Raja bersama Bupati sehingga aktivitas kantor terkesan lumpuh.