(KN) Disela-sela pertandingan
Arsenal vs Stoke City, KN menyempatkan diri untuk mengulas kehebohan atas
pencalonan Anis Matta pada salah satu portal berita ternama di negeri
ini(01/03). Sambil merenung, mencoba mengingat kembali apa-apa saja kesan yang
muncul tentang Anis, yang juga Presiden PKS. Tapi setelah beberapa menit, tak
secuil pun kesan negarawan yang muncul dari sosok itu. Yang ada hanya kita
heroiknya mencoba menyalamatkan muka PKS, saat presiden terdahulu terperangkap
kasus “daging sapi impor”. Atau keberanian Anis saat menampilkan salah satu
istri poligaminya ke publik. Itu saja!
Walau pun begitu, Anis masih
harus kita acungi jempol. Soalnya ia ketua partai yang kedua berani menonjolkan
diri, setelah Hatta Rajasa dari PAN yang mencalonkan jadi Presiden RI pada beberapa bulan
mendatang.
Sekarang mari kita pertimbangkan
Pencalonan Anis. Berdampak positip terhadap PKS atau malah sebaliknya. Dari
beberapa pemberitaan, baik cetak maupun elektronik keberadaan PKS ini di luar
harapan publik, dari survei saja, partai ini tidak masuk lima besar. Ia di
kalahkan PDI-P sebagai pemuncak, Golkar, Nasdem sebagai partai baru, Gerindra
dan Hanura. Kemerosotan ini sebenarnya tak jauh dari kegagalan PKS dalam
mempertahankan dirinya sebagai partai Islam. Sebagaimana khalayak ramai paham,
PKS lahir dan hadir untuk mewadahi individu individu yang memiliki harapan dan
cita-cita, Islam bisa mewujudkan amanat UUD 1945 yaitu menuju masyarakat adil
dan makmur. Dengan cara-cara yang legitimet, elegan, santun, bersih sesuai
syariah Islam. Setelah tiga kali mengikuti pemilu sepertinya partai ini tak
kuat bertahan dari “aneksasi kebudayaan berpartai” yang ada saat ini. PKS mulai
bertransformasi perlahan menyerupai wajah PPP, yang tak lagi jadi pilihan
Individu-individu cerdas yang masih menjadi Islam sebagai Harapan. Sebagaimana kita mafhum PPP kini hanya
mengandalkan pemilih tradisional yang terus menyusut jumlahnya. Fenomena ini
hendaknya cepat di sadari oleh PKS dan seluruh anggotanya. Kalau mau jujur daya
tarik PKS menjadi pilihan pemilih, terletak pada idealis Islam yang ia pegang.
Jika itu di “telantarkan” seperti makin tidak terakomodirnya faksi keadilan
yang ada dalam tubuh partai ini. Maka sia-sialah aktivis Islam kampus yang
pernah berjibaku membangun pondasi partai ini di awal tahun sembilan puluhan,
saat KN masih berstatus mahasiswa.
Rencana Anis yang akan mengetuk
satu juta pintu rumah, untuk memulai kampanye sebagai calon Presiden, tanpa
nilai jual yang bisa ia tawarkan pada masyarakat ramai kelak hanya akan mendapatkan
tanggapan dingin. Jika segenap unsur yang berkepentingan terhadap PKS tidak
mampu membangun karakter baru, yang bisa memalingkan wajah setiap pemilih yang
mulai menghindar untuk kembali kearah semula. PKS, saat ini sebenarnya
membutuhkan uluran tangan dari pihak di luar partai yang bisa menutupi noda
hitam yang terlanjur melekat akibat skandal sapi impor. Skandal ini walau di
yakini akun @triomacan2000 sebagai akibat rekayasa untuk menjatuhkan citra
partai, tetap saja di geber media secara simultan dan mengikis secara perlahan
kepercayaan pemilih simpatisan. Jadi PKS harus melirik sosok bersih yang
memiliki sikap kenegarawan yang tangguh untuk di orbitkan di pentas politik
nasional,sekaligus jadi jembatan untuk
penyempurnaan Islam sebagai pensejahtera rakyat Indonesia, bukan semata-mata
kekuasaan belaka. Kepercayaan diri PKS saat ini untuk menampilkan sosok
internal bisa menjadi blunder yang akan sulit untuk di bangkitkan kembali pada
kesempatan pemilu berikutnya, walau keberhasilan PKS dalam menampilkan kadernya
di tingkat daerah mengalami keberhasilan yang menakjubkan. Cukuplah di ingat,
menang dalam setiap pertempuran bukan berarti memenangkan seluruh peperangan.
Kita masih melihat eksistensi Anis Matta beberapa bulan kedepan sebelum Pileg
berlangsung, menjual atau tidak sama sekali!
No comments:
Post a Comment