Sunday, March 2, 2014

ANIS MATTA, DIMANA NILAI “JUALNYA” ?

(KN) Disela-sela pertandingan Arsenal vs Stoke City, KN menyempatkan diri untuk mengulas kehebohan atas pencalonan Anis Matta pada salah satu portal berita ternama di negeri ini(01/03). Sambil merenung, mencoba mengingat kembali apa-apa saja kesan yang muncul tentang Anis, yang juga Presiden PKS. Tapi setelah beberapa menit, tak secuil pun kesan negarawan yang muncul dari sosok itu. Yang ada hanya kita heroiknya mencoba menyalamatkan muka PKS, saat presiden terdahulu terperangkap kasus “daging sapi impor”. Atau keberanian Anis saat menampilkan salah satu istri poligaminya ke publik. Itu saja!
Walau pun begitu, Anis masih harus kita acungi jempol. Soalnya ia ketua partai yang kedua berani menonjolkan diri, setelah Hatta Rajasa dari PAN yang mencalonkan  jadi Presiden RI pada beberapa bulan mendatang.
Sekarang mari kita pertimbangkan Pencalonan Anis. Berdampak positip terhadap PKS atau malah sebaliknya. Dari beberapa pemberitaan, baik cetak maupun elektronik keberadaan PKS ini di luar harapan publik, dari survei saja, partai ini tidak masuk lima besar. Ia di kalahkan PDI-P sebagai pemuncak, Golkar, Nasdem sebagai partai baru, Gerindra dan Hanura. Kemerosotan ini sebenarnya tak jauh dari kegagalan PKS dalam mempertahankan dirinya sebagai partai Islam. Sebagaimana khalayak ramai paham, PKS lahir dan hadir untuk mewadahi individu individu yang memiliki harapan dan cita-cita, Islam bisa mewujudkan amanat UUD 1945 yaitu menuju masyarakat adil dan makmur. Dengan cara-cara yang legitimet, elegan, santun, bersih sesuai syariah Islam. Setelah tiga kali mengikuti pemilu sepertinya partai ini tak kuat bertahan dari “aneksasi kebudayaan berpartai” yang ada saat ini. PKS mulai bertransformasi perlahan menyerupai wajah PPP, yang tak lagi jadi pilihan Individu-individu cerdas yang masih menjadi Islam sebagai Harapan.  Sebagaimana kita mafhum PPP kini hanya mengandalkan pemilih tradisional yang terus menyusut jumlahnya. Fenomena ini hendaknya cepat di sadari oleh PKS dan seluruh anggotanya. Kalau mau jujur daya tarik PKS menjadi pilihan pemilih, terletak pada idealis Islam yang ia pegang. Jika itu di “telantarkan” seperti makin tidak terakomodirnya faksi keadilan yang ada dalam tubuh partai ini. Maka sia-sialah aktivis Islam kampus yang pernah berjibaku membangun pondasi partai ini di awal tahun sembilan puluhan, saat KN masih berstatus mahasiswa.

Rencana Anis yang akan mengetuk satu juta pintu rumah, untuk memulai kampanye sebagai calon Presiden, tanpa nilai jual yang bisa ia tawarkan pada masyarakat ramai kelak hanya akan mendapatkan tanggapan dingin. Jika segenap unsur yang berkepentingan terhadap PKS tidak mampu membangun karakter baru, yang bisa memalingkan wajah setiap pemilih yang mulai menghindar untuk kembali kearah semula. PKS, saat ini sebenarnya membutuhkan uluran tangan dari pihak di luar partai yang bisa menutupi noda hitam yang terlanjur melekat akibat skandal sapi impor. Skandal ini walau di yakini akun @triomacan2000 sebagai akibat rekayasa untuk menjatuhkan citra partai, tetap saja di geber media secara simultan dan mengikis secara perlahan kepercayaan pemilih simpatisan. Jadi PKS harus melirik sosok bersih yang memiliki sikap kenegarawan yang tangguh untuk di orbitkan di pentas politik nasional,sekaligus jadi jembatan  untuk penyempurnaan Islam sebagai pensejahtera rakyat Indonesia, bukan semata-mata kekuasaan belaka. Kepercayaan diri PKS saat ini untuk menampilkan sosok internal bisa menjadi blunder yang akan sulit untuk di bangkitkan kembali pada kesempatan pemilu berikutnya, walau keberhasilan PKS dalam menampilkan kadernya di tingkat daerah mengalami keberhasilan yang menakjubkan. Cukuplah di ingat, menang dalam setiap pertempuran bukan berarti memenangkan seluruh peperangan. Kita masih melihat eksistensi Anis Matta beberapa bulan kedepan sebelum Pileg berlangsung, menjual atau tidak sama sekali!

No comments:

Post a Comment